Connect with us

Entertainment

Sherina Munaf: Siapapun Berhak Bersuara Apapun Gender dan Sukunya!

Kabartangerang.com,JAKARTA– Sherina Munaf menyinggung soal kebebasan berpendapat dan saling menghormati pandangan seseorang di ruang publik tanpa mencari pembenaran dan memojokkan lawan diskusinya.

Hal tersebut ia utarakan di media sosial Twitter miliknya @sherinasinna, Jumat (5/6/2020). Dalam tulisan thread-nya, aktris cantik 30 tahun ini bertekad akan melawan kekerasan dan ketidakadilan.

“Dalam aspek-aspek tertentu saya merasa istimewa, karena itu pemahaman saya tidak akan pernah sempurna. Karena itu saya akan terus mendidik diri saya sendiri, mulai dengan negara saya sendiri dan kemudian global. Saya akan selalu berada di sisi kebebasan berbicara & kesetaraan. Dan saya akan berbaris melawan kekerasan & ketidakadilan,” cuit Sherina.

“Saya masih banyak belajar dan butuh pendapat teman-teman. Jadi mohon jangan dulu tutup ruang diskusi kalau ada pendapat yang tidak sesuai dengan kamu. Yang penting percakapan tidak berhenti, agar kita bergerak ke arah solusi, bukan untuk memenangkan ego yang tersentil,” sambungnya lugas.

Sherina menegaskan, perbedaan pandangan itu hal lumrah. Namun jangan membuat perbedaan itu sebagai musuh yang berseberangan sehingga menyetop percakapan di tengah jalan tanpa adanya solusi dan progres.

“Topik yang tadinya terhalang oleh isu-isu lain kini tersorot. Kita akan menyerap dengan cara yang berbeda, memiliki pendapat yang berbeda-beda, dan memberi pendapat dengan cara yang berbeda. Ruang diskusi pun terbuka. Dan dari situlah progres akan terjadi,” kata Sherina lagi.

Putri Mantan Kepala Bekraf Triawan Munaf itu percaya setiap orang harus punya kesempatan bersuara tanpa melihat perbedaan suku dan warna kulitnya.

“Saya percaya setiap orang harus mendapatkan kesempatan yang sama dan adil, mempunyai suara, apapun gender atau sukunya. Namun walau saya menjunjung tinggi ideologi ini, saya juga menyadari bahwa selama ini saya “sheltered” dari realita sebenarnya. Jadi kembali lagi edukasi diri,” tegasnya.

“Melihat apa yang sedang terjadi di dunia, kesadaran secara global, serta perdebatan di sosmed akhir2 ini, mendorong saya untuk mengedukasi diri tentang inequality yang terjadi di “backyard” kita sendiri. Menelaah kembali relationship “free speech” dengan “identity politics”.” (endra/fajar)

Source

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer